Sekolah dolan bisa menjadi mitra Anda

February 22, 2012

Serba-Serbi Ujian PAKET A, B dan C

Saat sekarang anak-anak yang keluar dari Sekolah dan tetap ingin mendapatkan legalitas (pemerintah )atas hasil belajarnya... hanyalah melalui ijasah Paket.
Namun masih banyak juga diantara mereka belum memahami bagaimana sih cara menempuhnya dan apakah ijasah ini termasuk yang diakui atau tidak ya oleh PTN dan PTS atau sekolah formal di level SMP atau SMA.
Saya coba memberikan.beberapa hal yang saya ketahui..

A. Tentang Cara ikut Ujian Paket A,B atau C

1. Ijasah Paket bisa di peroleh dengan bergabung dengan Lembaga yang dibentuk oleh
pemerintah seperti SKB ( Sanggar Kegiatan Belajar ), bisa juga PKBM ( Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat ) atau Sekolah Alternatif yang di bentuk oleh
Masyatrakat, Ada Komunitas/ Lembaga Non Formal lain
2. Ijasah Paket sebagaimana aturan yang terakhir di POS UNPP 2011 bahwa setiap
peserta ujian harus memiliki rapot 3 semester terakhir yg dikeluarkan lembaga Non
Formal. sehingga pesekolah rumah harus terdaftar atau bergabung pada Lembaga Non
Formal penyelenggara ujian.

B. Bagaimana Ijasahnya apa di akui ?

1. Untuk anak yang lulus dari jenjang SD dan dapat Ijasah Paket A ijasah ini bisa di
pakai melanjutkan ke SMP Formal namun biasanya ke SPM Swasta, karena selama ini
pengumuman kelulusannya setelah.. test penerimaan di SMP negeri. ( ini yang gak
adil menurut saya )
2. Untuk Anak yang jenjang SMP dapat ijasah Paket B dan ini kasusnya sama sementara
hanya bisa diterima di SMA atau SMK swasta. namun ada cara yang bisa dilalui untuk
ikutan penerimaan masuk SMA Negeri, yaitu dengan berupaya menempuh jalur akselera-
si ( 2 tahun ) hingga bisa lulus duluan..., namun ada syaratnya yaitu IQ min 130.
3. Untuk anak yang jenjang SMA bila lulus akan dapat ijasah Paket C, dan ini juga
bisa mengambil jalur akselerasi bila IQ min 130, dan anak-anak yang yang lulus
dengan paket C ini bisa di terima di PTN ataupun PTS bahkan di PT LN.

C. Bagaimana cara untuk masuk PTS atau PTN. dengan ijasah Paket C

1. Untuk anak yang mengambil jalur Paket saya sarankan cari lembaga yang terstruk
tur dan jelas.. bukan hanya bayar, namun tidak ada kegiatan belajar dan menjamin
lulus..., karena pasti akan bayar dengan biaya yang mahal.
2. Untuk mendaftar ke PTS rata-rata mereka minta nhlai rapot ada yang hanya kelas XI
untuk bidang tertentu seperti Matematika dan Bhs Inggris sedang bidang studi lain
hanya minta jumlah dan rata-ratanya saja, namun ada juga yang lengkap mulai dari
kelas X, XI dan sem 1 kelas XII ini biasanya yg jalur prestasi.
Apakah anak jalur paket bisa..diterima di jalur ini... jawabnya BISA..!!
Bagaimana rapotnya..., semua rapot yang di serahkan harus terlegalisir oleh lemba-
ga non formal / formal ( yg di jalur formal )
3. Adakah anak yang masih mau ujian Paket C bulan Mei / Juni sudah di terima di PTS
pada bulan sebelumnya ? misalnya bulan Desember tahun sebelumnya atau januari, Feb
Maret atau April..? Ada... mereka rata-rata mengikutin test di PTS tsb. dan daftar
langsung ke PTS nya atau bisa juga Online. dengan menyampaikan nilai bid studi
tertentu sesuai yg ada di rapot.

D. Apa kendala Ujian Paket

1. Bagi saya ujian paket sama halnya dengan UN di Formal.. harus dilakukan dengan
Jujur, bila ada yang berbicara dan meragukan kredibilitas ujian paket yang kita
lakukan terutama di UNSR oleh ASAHPENA.. maka mereka yang mengatakan itu hanya
yang salah mendapatkan informasi dari orang yang kurang bertanggung jawab atau
malah tidak tahu dan tidak pernah melihat sendiri kegiatan ujian di UNSR tsb.
2. Kendala utama ujian Paket adalah keluarnya pengumuman kelulusan yang cukup lama
biasanya hampir 1,5 bulan dan di ikuti oleh ijasah yang juga cukup lama keluarnya
biasanya 3 s/d 4 bulan.
kendala inilah yang membuat anak-anak lulusan Paket mendapatkan hambatan saat mau
melanjutkan ke jenjang berikutnya.
3. Bagaimana untuk anak yang sudah di terima di PTS.. ? anak-anak seperti ini biasa
nya harus menyerahkan atau menunjukkan ijasah Aslinya saat akhir semester 1,
jadi masih ada kesempatan 6 bulan untuk mengurus ijasah kelulusannya.

E. Apa saja Persyaratan Ikut Ujian Paket ?

1. Mengisi Formulir Pendaftaran
2. Menyertakan Pas Foto 3x4 dan 4x6 berwarna biasanya paket A (background merah
biru bagi yang SMP dan SMA dan memakai baju heputih )
3. Fc Akte kelahiran, Kartu keluarga dan rapot serta ijasah & SKHU terakhir bagi
yg menempuh paket B dan C.
4 Hal lain sesuai dengan lembaga yg menyelenggarakan ( kalau di Sekolah Dolan ada
lah wajib ikut Tryout 3 x sebelum ujian bln Maret, April dan Mei. )

January 27, 2012

OUTBOUND setelah belajar di Konservasi Kampoeng Jawa





Anak-anak pada hari minggu 22 Januari 2012 bersama dengan Hs se malang Raya... dan Lumajang, Pasuruan serta Ngawi mengadakan kunjungan belajar di Konservasi Kampoeng Java yang ada di tengah kampus UMM
Kegiatan yang...digagas bersama forum Malang Homescholing dan di supoort oleh sekolah dolan... berlangsung cukup menarik.
Acara yang dimulai dengan mendirikan tenda untuk tempat perbekalan dan dilanjutkan mendengarkan penjelasan dari team konservasi Kampoeng Java dengan keliling lokasi, membuat kita bisa belajar banyak hal tentang tanaman atau tumbuhan serta binatang yang ada di sana.
setelah memberi makan kambing kitapun naik ke rumah pohon yang dari atas rumah tersebut kita bisa memberikan makan rusa, merak dll.
Kemudian kita berjalan menuju tempat pemancingan yang banyak ikannya sehingga dengan menggunakan pancing ala kadarnya pun kita bisa mendapatkan ikan mujaer...
Acara di akhiri dengan flying Fox ... yang diikuti mulai dari anak 3 tahun hingga anak SMA... thanks teman teman Malang homeschoolng dan keluarga besar sekolah dolan semoga acara berikutnya bisa lebih menarik lagi.... dsalam dahsyat

January 19, 2012

Cerianya Mereka

TEST IQ Perlukan... ????

Katanya Test IQ hanya sekian persen saja berpengaruh dalam perkembangan seorang anak.. lalu apakah test ini masih perlu.... ?

kami memandang masih perlu... karena pada test tersebut banyak hal yang direkomendasikan dan tentunya sangat bermanfaat bagi kita sebagai pendamping anak-anak.

Latar belakang yang berbeda pada anak-anak tentunya berbeda, tentunya alangkah sanagat baiknya bila kita memiliki banyak data tetang anak-anak ini.
Dalam aktifitas sehari-hari ada kalanya mereka berhadapan dengan anak seusianya ataupun usia diatasnya...

beberapa anak-anak ada yang mengalami keterlambatan dalam melakukan aktifitas belajarnya .... sehingga kita juga ingin tahu... disebabkan karena apa..

Ada juga anak yang ingin akselerasi...dalam proses belajarnya dan ini diperlukan test IQ yang menjadikan syarat penentu..

semoga dengan test secara bersama ini anak-anak bisa lebih optimal dalam meraih apa yang diinginkan..


December 28, 2011

Pertemuan dengan DIRJEN DIKDAS


Upaya yang terbaik selalu kita upayakan.. Sekolah Dolan yang juga menjadi bagian dari ASAHPENA selalu berupaya untuk bisa mendapatkan peluang yang terbaik bagi kelangsungan belajar anggotanya dan beberapa mitranya
saat ada kesempatan untuk bisa silaturahim ke DIRJEN DIKDAS,maka bersama teman-teman Asahpena Bandung, Tangsel dan Asahpena Pusat kami pun memanfaatkan untuk bisa silaturahim.

Bapak DIRJEN yang ramah dan penuh canda pun bisa mengakomodir kebutuhan anak-anak pesekolah rumah untuk bisa ujian nasional sebagaimana anak-anak di sekolah formal

memang sih masih berproses.. namun ke GALAU an akan di hapuskannya Dirjen Kesetaraan membuat pesekolah rumah bingung akan ujian nasional sebagaimana sebelumnya atau ada kebijakan yang baru... dan ternyata utuk tahun ini insya Allah masih menggunakan format ujian paket dan secara berangsur-angsur di lekukan bertahap ujian sebagaimana anak-anak Formal.

http://rofiquez.wordpress.com/2011/12/24/ujian-nasional-2012/

December 16, 2011

CIE yang mungkin bisa menjadi pilihan

Hasil kunjungan Teman-teman Club OASE

Berkunjung ke kantor perwakilan CIE di Universitas Al-Azhar Indonesia
Posted on Dec 16, 2011 by wietski 1 Comment
Akhir-akhir ini, kami mendengar berita yang kurang menyenangkan bagi para praktisi homeschool mengenai kemungkinan adanya persyaratan mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikasi (ijasah) nasional yang memberatkan anak-anak pembelajar mandiri yang tidak ikut pendidikan formal maupun nonformal. Sambil menunggu angin segar perubahan kebijakan langkah-langkah mengikuti ujian nasional yang lebih baik, kami berempat (saya, mbak mella, mbak lala, dan mbak mira) memutuskan untuk mencari alternatif lain, salah satunya dengan mengunjungi kantor perwakilan Cambridge International Examination (CIE) Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Bagi yang belum tahu apa itu CIE, CIE adalah ujian internasional untuk mendapatkan sertifikasi (ijasah). Kalau dilihat dari situsnya, www.cie.org.uk, misi lembaga ini adalah untuk mewujudkan pendidikan internasional kelas dunia melalui kurikulum, ujian/assessment, dan pelayanan.

Sertifikasi yang dikeluarkan cambridge bertaraf internasional dan diakui dunia. Ujian yang disediakan setingkat dengan SD, SMP, dan SMA. Selain itu, kurikulum cambridge sendiri bisa didownload gratis disitusnya, dan buku-buku pelajaran yang menggunakan kurikulum cambridge bisa dibeli di toko buku yang menjadi distributornya, salah satunya Mentari Books yang ada di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Mungkin semua sudah mengetahui bahwa semakin banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang kemudian menggunakan kurikulum Cambridge dan mengurus ujiannya dengan bekerja sama dengan CIE UAI. Pertanyaan kami tentu saja, bagaimana dengan praktisi Homeschool?? Intinya hari itu, kami ingin memastikan peluang dan alternatif keluarga praktisi homeschool untuk mengikuti ujian sertifikasi Cambridge.

Tiba disana jam 11.30, kami diterima dengan senang hati oleh Bapak Denny Azhari meski rame-rame dengan pasukannya masing-masing (kami bawa anak-anak kami ikut serta). Setelah berbincang-bincang, berikut ini kesimpulan yang kami dapat:

1.Saat ini CIE UAI menyediakan ujian level SD (primary) dan SMA. SMP masih diurus perizinannya, meskipun menurut Pak Denny sebenarnya tanggung kalau ingin ujian SMP, lebih baik langsung SMA saja.

2. Untuk ikut ujian Cambridge, bisa daftar perorangan, tidak dibatasi usia dan bisa langsung ambil di level mana saja (SD/SMA). Sistemnya sama seperti ujian TOEFL/IELTS yang bisa diikuti siapa saja tanpa ada persyaratan raport atau ijasah pendidikan sebelumnya.

3.Ujian diselenggarakan dua kali dalam setahun, yaitu bulan Mei-Juni (pendaftaran Desember-Februari) dan Oktober-November (pendaftaran bulan Juli-Agustus)

4. Biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtua adalah biaya pendaftaran (400rb), biaya administrasi (450rb/subyek), dan biaya ujian.

5. Untuk ujian level SD (primary), yang diujikan adalah 3 mata pelajaran, matematika, sains dan bahasa Inggris dengan biaya Rp 750.000 (all in)

6. Ujian untuk level SD harus diambil satu paket/sekaligus 3 mata pelajaran tersebut dalam satu waktu.

7.Hasil dari ujian level SD ini mirip seperti STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) atau hasil ujian TOEFL/IELTS dan jika diperlukan bisa dipakai untuk mendaftar ke SMP di Indonesia yang menggunakan kurikulum cambridge atau RSBI.

8. Ujian level SD ini tidak ada hubungannya dengan ujian level SMP atau SMA, artinya bukan persyaratan yang harus diambil sebelum ikut ujian level SMP/SMA.

9. Untuk ujian level SMA, ada 4 yaitu:

Ujian IGCSE Rp 825.000 (dibayar per subject hanya untuk IGCSE)
Ujian O Level Rp 525.000 (dibayar per subject hanya untuk O Level)
Ujian AS Level Rp 650.000 (dibayar per subject hanya untuk AS Level)
Ujian A Level Rp 925.000 (dibayar per subject hanya untuk A Level)

11. CIE juga ada ujian praktikum di level SMA untuk kimia, biologi, dan fisika dengan biaya Rp 1.000.000 per-subyek.

12. Perbedaan diantara ujian-ujian tersebut adalah tergantung pada universitas yang dituju, sehingga calon siswa diminta untuk secara spesifik mencari tahu ke universitas tersebut atau melihat ke situsnya (untuk universitas di Indonesia belum terupdate), termasuk mengenai subyek apa saja yang ingin diujikan.

13. Ujian untuk level SMA berdasarkan persubyek dan bisa dicicil/diujikan terpisah waktunya tergantung kebutuhan dan permintaan dari universitas yang dituju.

14. Saat ini sudah semakin banyak universitas di Indonesia yang menerima hasil ujian CIE sebagai persyaratan administrasi pengganti ijasah nasional untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi. Hanya saja, daftar universitas mana saja belum terupdate di situs CIE, sehingga harus ditanyakan langsung ke universitas yang bersangkutan, atau bisa dengan bapak Denny. Kemarin saat kami berkunjung, yang disebut oleh pak Denny diantaranya adalah UI, ITB, UNIBRAW, UAI, UPH, Binus.

15. Selain universitas di Indonesia, tentunya juga bisa dipakai untuk melamar ke universitas-universitas di luar negeri (daftarnya di situsnya), dan juga sebagai alat untuk mencari beasiswa.

Dari poin-poin diatas, kami berkesimpulan:

Keluarga praktisi homeschool punya kesempatan yang sangat luas untuk mengikuti ujian bertaraf internasional yang diakui dunia dengan biaya yang cukup lebih terjangkau dibandingkan jika masuk ke sekolah berkurikulum cambridge. Dengan demikian, pilihan ke universitas tidak perlu dibatasi hanya yang ada di dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

Keluarga Indonesia lainnya yang menyekolahkan anak di sekolah biasa dan ingin anaknya punya sertifikasi cambridge tanpa masuk ke sekolah berkurikulum cambridge juga sangat terbuka.

Tantangan yang paling kelihatan saat ini adalah kemampuan bahasa Inggris anak-anak Indonesia dalam menjawab soal ujian cambridge, untuk itu kami kemarin juga berdiskusi mengenai apakah akan ada try out ujian Cambridge dan workshop bagaimana persiapan menghadapi ujian Cambridge ini. Jawaban yang kami dapat adalah: BELUM ADA, tapi Pak Denny bersedia adakan try out dengan syarat kami yang menyediakan tempat ujian dan minimal 10 anak dengan jenis ujian yang sama. Untuk workshop juga masih terbuka lebar.

Tantangan yang kedua adalah mungkin meningkatkan rasa percaya diri orangtua dan anak-anak homeschool bahwa kita semua MAMPU dan BISA mengikuti ujian internasional. Dan ini kami harapkan saling mendukung dan saling bahu membahu menuju kesana.

Terakhir, kami mengajak CIE UAI dan Pak Denny khususnya untuk “brainstorming” kepada orangtua baik yang sekolah maupun praktisi homeschool mengenai Cambridge dan bagaimana pelaksanaan ujian secara mandiri. Pak Denny sendiri sudah bersedia nih. Seru kan? ^_^

Maju terus pendidikan Indonesia!! ^_^

December 14, 2011

Belajar Dirumah namun bisa Ikutan UN di sekolah formal

Sebenarnya hal ini sudah ada yang melakukan namun belum banyak
Ada beberapa sekolah yang menerima anak-anak sekolah rumah untuk ikut ujian
di sekolah formal.
Teknisnya ya sesuai aturan harus mengajukan mutasi dari pend In formal ke Formal
semoga berita ini semakin bisa membuka kesempatan yang ingin mendapatkan ijasah sebagaiman anak formal.

JAKARTA, KOMPAS.com - Anak-anak sekolah rumah usia sekolah mulai tahun 2012 diarahkan secara bertahap untuk ikut ujian nasional sekolah formal. Selama ini, siswa sekolah rumah mengikuti ujian nasional kesetaraan Paket A, B, dan C atau setara SD, SMP, dan SMA untuk mendapat ijazah sesuai jenjang pendidikan.

"Pendidikan di sekolah rumah juga berkualitas. Sebenarnya, pemerintah mau supaya anak-anak usia sekolah belajar di sekolah formal. Tetapi memang ada anak-anak usia sekolah yang memilih homeschooling. Hak anak-anak ini juga mesti dilindungi," kata Didik Suhardi, Direktur Pembinaan SMP, Ditjen Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Senin (12/12/2011).

Belum lama ini, Ditjen Pendidikan Dasar Kemendikbud mengeluarkan aturan yang menghambat anak-anak sekolah rumah atau homeschooling jenjang SMP untuk ikut ujian nasional kesetaraan Paket B. Siswa yang boleh ikut ujian kesetaraan Paket B harus berusia minimal 18 tahun atau boleh di bawah 18 tahun asal sudah berkeluarga atau pernah menikah.

Kebijakan tersebut tentu saja merugikan anak-anak homeschooling usia sekolah di jenjang SMP. Sebab, kebijakan pemerintah soal pendidikan informal mengatur penyetaraan hasil belajar anak-anak homeschooling lewat ujian nasional kesetaraan.

Menurut Didik, sayang jika anak-anak homeschooling usia sekolah yang mendapat layanan pendidikan yang kualitasnya seperti sekolah formal hanya mendapat ijazah Paket A, B, atau C. Dengan adanya kebijakan baru yang bakal dilakukan secara bertahap, anak-anak homeschooling usia sekolah nantinya bisa ikut ujian nasional di sekolah formal.

"Memang masih perlu dibahas lebih lanjut cara mengkonversi hasil belajar siswa sekolah rumah yang bisa diterima sekolah formal. Nanti, sekolah formal harus terbuka untuk bisa menerima anak-anak sekolah rumah yang hendak bergabung untuk ikut UN sekolah formal," kata Didik.

Munasprianto Ramli dari Divisi Penelitian dan Pengembangan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena), mengatakan selama ini memang ada anak-anak homeschooling yang ikut UN sekolah formal. Tetapi selama ini dilakukan secara diam-diam sehingga berkesan ilegal. Tidak semua pimpinan sekolah terbuka untuk menerima anak-anak homeschooling terdaftar di sekolahnya. Akhirnya, banyak anak-anak sekolah rumah yang pilih UN kesetaraan, ujar Munasprianto.

Menurut Munasprianto, sudah saatnya di Indonesia ada sekoalh payung bagi anak-anak homeschooling. Anak-anak usia sekolah tetap belajar lewat jalur sekolah rumah, namun sesekali bisa bergabung belajar di sekolah reguler dan ikut UN sekolah formal.

Munasprianto menambahkan anak-anak homeschooling usia sekolah sebenarnya selama ini dirugikan jika hanya boleh ikut UN kesetraan. Pasalnya, pelaksanaan UN kesetaraan sering berubah-ubah dan pengumuman kelulusan sering terlambat.

"Akibatnya, anak-anak homeschooling tidak bisa daftar sekolah atau kampus di tahun ajaran yang sama karena penyelenggaraan UN kesetaraan setelah UN formal," kata Munasprianto.

Sumber
http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/12/15585312/siswa.sekolah.rumah.ikut.un.formal

December 13, 2011

UCAPAN SELAMAT






Meski ada yang sempat mengulang
karena tidak lulus pada ujian Juni 2011 Lalu
Akhirnya semuanya bisa LULUS
pada ujian Oktober 2011

Selamat Kepada :

Fransisco Kevin, William, Andrea Suyanto, Nico Moeljotanto
Melly B, Bhaga Aninditatama, Annisa Ayu laras Atika, M. Ya'Qub, S. Choiriyah
Arief Ridwan, Bill Hartanto, Adinda Az, Nabil Achmad F


Salam Dahsyat...!!!

December 12, 2011

Siswa Sekolah Rumah Dipersulit Ikut Ujian Kesetaraan



JAKARTA, KOMPAS.com- Anak-anak usia belajar di jenjang SMP yang memilih sekolah rumah atau homeschooling dipersulit untuk ikut ujian nasional kesetaraan program Paket B atau setara SMP. Pasalnya, syarat peserta ujian kesetaraan Paket B yang diperbolehkan pemerintah berusia di atas 18 tahun atau boleh di bawah usia 18 tahun asal sudah berkeluarga atau pernah menikah.

Peraturan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu dinilai diskriminatif terhadap anak-anak sekolah rumah. Padahal, pilihan untuk menjalankan pendidikan informal seperti sekolah rumah diakui di Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Budi Trikorayanto, Sekretaris Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) di Jakarta, Minggu (11/12/2011), mengatakan, di dalam UU Sisdiknas diatur bahwa penyetaraan peserta pendidikan informal dengan mengikuti ujian kesetaraan Paket A (SD), B (SMP), dan C (SMA/SMK). Anak-anak yang memilih jalur pendidikan informal lewat sekolah rumah tunggal atau komunitas umumnya anak-anak usia belajar dari kalangan mampu dan keluarga miskin.

"Aneh, jika pemerintah mempersulit anak-anak usia belajar di homeschooling untuk ikut ujian kesetaraan, terutama Paket B. Hak anak-anak untuk memilih pendidikan di jalur sekolah rumah justru dikebiri lewat aturan-aturan yang menggiring mereka hanya bersekolah di sekolah formal," ujar Budi.

Erlina VF Ratu, Ketua Komunitas Sekolah Rumah Pelangi di Tangerang, mengatakan, anak-anak sekolah rumah yang ingin mendapatkan pendidikan terbaik di jalur pendidikan informal terus saja didiskriminasi. "Masa anak-anak sekolah rumah sekolah rumah usia SMP mesti kawin dulu baru boleh ikut ujian kesetaraan Paket B? Kebijakan ini justru merugikan program wajib belajar yang harus dilaksanakan dan dilindungi pemerintah karena amanat konstitusi," kata Erlina.

Ternyata tulisan ini cukup ampuh untuk menggerakkan DIRJEN yang mengundang untuk ketemu dalam rangka kebijakan yang lebih berpihak pada pendidikan Informal....
Thanks teman-teman atas upaya ini
Salam Dasyat

December 11, 2011

Aturan Tentang Pendidikan Informal Th 2010

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 17 TAHUN 2010
TENTANG
PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

Pada no ini masih ada :

39. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Pada halaman 95 ada Bab seperti ini

BAB V
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL

Pasal 116
Pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Pasal 117
(1) Hasil pendidikan informal dapat dihargai setara dengan hasil pendidikan nonformal dan formal setelah melalui uji kesetaraan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah
sesuai kewenangan masing-masing, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Uji kesetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) dilaksanakan melalui:
a. Uji kesetaraan yang berlaku bagi peserta didik pendidikan nonformal sebagaimana diatur dalam Pasal 115; dan
b. Uji kesetaraan yang diatur dengan Peraturan Menteri untuk hasil pendidikan informal lain yang berada di luar lingkup ketentuan dalam Pasal 115.

Setahu saya belum ada yang mengganti aturan ini...,
tapi bila ada yang lebih tahu mohon bisa menambahkan..
salam dahsyat