Hasil kunjungan Teman-teman Club OASE
Berkunjung ke kantor perwakilan CIE di Universitas Al-Azhar Indonesia
Posted on Dec 16, 2011 by wietski 1 Comment
Akhir-akhir ini, kami mendengar berita yang kurang menyenangkan bagi para praktisi homeschool mengenai kemungkinan adanya persyaratan mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikasi (ijasah) nasional yang memberatkan anak-anak pembelajar mandiri yang tidak ikut pendidikan formal maupun nonformal. Sambil menunggu angin segar perubahan kebijakan langkah-langkah mengikuti ujian nasional yang lebih baik, kami berempat (saya, mbak mella, mbak lala, dan mbak mira) memutuskan untuk mencari alternatif lain, salah satunya dengan mengunjungi kantor perwakilan Cambridge International Examination (CIE) Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Bagi yang belum tahu apa itu CIE, CIE adalah ujian internasional untuk mendapatkan sertifikasi (ijasah). Kalau dilihat dari situsnya, www.cie.org.uk, misi lembaga ini adalah untuk mewujudkan pendidikan internasional kelas dunia melalui kurikulum, ujian/assessment, dan pelayanan.
Sertifikasi yang dikeluarkan cambridge bertaraf internasional dan diakui dunia. Ujian yang disediakan setingkat dengan SD, SMP, dan SMA. Selain itu, kurikulum cambridge sendiri bisa didownload gratis disitusnya, dan buku-buku pelajaran yang menggunakan kurikulum cambridge bisa dibeli di toko buku yang menjadi distributornya, salah satunya Mentari Books yang ada di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Mungkin semua sudah mengetahui bahwa semakin banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang kemudian menggunakan kurikulum Cambridge dan mengurus ujiannya dengan bekerja sama dengan CIE UAI. Pertanyaan kami tentu saja, bagaimana dengan praktisi Homeschool?? Intinya hari itu, kami ingin memastikan peluang dan alternatif keluarga praktisi homeschool untuk mengikuti ujian sertifikasi Cambridge.
Tiba disana jam 11.30, kami diterima dengan senang hati oleh Bapak Denny Azhari meski rame-rame dengan pasukannya masing-masing (kami bawa anak-anak kami ikut serta). Setelah berbincang-bincang, berikut ini kesimpulan yang kami dapat:
1.Saat ini CIE UAI menyediakan ujian level SD (primary) dan SMA. SMP masih diurus perizinannya, meskipun menurut Pak Denny sebenarnya tanggung kalau ingin ujian SMP, lebih baik langsung SMA saja.
2. Untuk ikut ujian Cambridge, bisa daftar perorangan, tidak dibatasi usia dan bisa langsung ambil di level mana saja (SD/SMA). Sistemnya sama seperti ujian TOEFL/IELTS yang bisa diikuti siapa saja tanpa ada persyaratan raport atau ijasah pendidikan sebelumnya.
3.Ujian diselenggarakan dua kali dalam setahun, yaitu bulan Mei-Juni (pendaftaran Desember-Februari) dan Oktober-November (pendaftaran bulan Juli-Agustus)
4. Biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtua adalah biaya pendaftaran (400rb), biaya administrasi (450rb/subyek), dan biaya ujian.
5. Untuk ujian level SD (primary), yang diujikan adalah 3 mata pelajaran, matematika, sains dan bahasa Inggris dengan biaya Rp 750.000 (all in)
6. Ujian untuk level SD harus diambil satu paket/sekaligus 3 mata pelajaran tersebut dalam satu waktu.
7.Hasil dari ujian level SD ini mirip seperti STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) atau hasil ujian TOEFL/IELTS dan jika diperlukan bisa dipakai untuk mendaftar ke SMP di Indonesia yang menggunakan kurikulum cambridge atau RSBI.
8. Ujian level SD ini tidak ada hubungannya dengan ujian level SMP atau SMA, artinya bukan persyaratan yang harus diambil sebelum ikut ujian level SMP/SMA.
9. Untuk ujian level SMA, ada 4 yaitu:
Ujian IGCSE Rp 825.000 (dibayar per subject hanya untuk IGCSE)
Ujian O Level Rp 525.000 (dibayar per subject hanya untuk O Level)
Ujian AS Level Rp 650.000 (dibayar per subject hanya untuk AS Level)
Ujian A Level Rp 925.000 (dibayar per subject hanya untuk A Level)
11. CIE juga ada ujian praktikum di level SMA untuk kimia, biologi, dan fisika dengan biaya Rp 1.000.000 per-subyek.
12. Perbedaan diantara ujian-ujian tersebut adalah tergantung pada universitas yang dituju, sehingga calon siswa diminta untuk secara spesifik mencari tahu ke universitas tersebut atau melihat ke situsnya (untuk universitas di Indonesia belum terupdate), termasuk mengenai subyek apa saja yang ingin diujikan.
13. Ujian untuk level SMA berdasarkan persubyek dan bisa dicicil/diujikan terpisah waktunya tergantung kebutuhan dan permintaan dari universitas yang dituju.
14. Saat ini sudah semakin banyak universitas di Indonesia yang menerima hasil ujian CIE sebagai persyaratan administrasi pengganti ijasah nasional untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi. Hanya saja, daftar universitas mana saja belum terupdate di situs CIE, sehingga harus ditanyakan langsung ke universitas yang bersangkutan, atau bisa dengan bapak Denny. Kemarin saat kami berkunjung, yang disebut oleh pak Denny diantaranya adalah UI, ITB, UNIBRAW, UAI, UPH, Binus.
15. Selain universitas di Indonesia, tentunya juga bisa dipakai untuk melamar ke universitas-universitas di luar negeri (daftarnya di situsnya), dan juga sebagai alat untuk mencari beasiswa.
Dari poin-poin diatas, kami berkesimpulan:
Keluarga praktisi homeschool punya kesempatan yang sangat luas untuk mengikuti ujian bertaraf internasional yang diakui dunia dengan biaya yang cukup lebih terjangkau dibandingkan jika masuk ke sekolah berkurikulum cambridge. Dengan demikian, pilihan ke universitas tidak perlu dibatasi hanya yang ada di dalam negeri, tetapi juga luar negeri.
Keluarga Indonesia lainnya yang menyekolahkan anak di sekolah biasa dan ingin anaknya punya sertifikasi cambridge tanpa masuk ke sekolah berkurikulum cambridge juga sangat terbuka.
Tantangan yang paling kelihatan saat ini adalah kemampuan bahasa Inggris anak-anak Indonesia dalam menjawab soal ujian cambridge, untuk itu kami kemarin juga berdiskusi mengenai apakah akan ada try out ujian Cambridge dan workshop bagaimana persiapan menghadapi ujian Cambridge ini. Jawaban yang kami dapat adalah: BELUM ADA, tapi Pak Denny bersedia adakan try out dengan syarat kami yang menyediakan tempat ujian dan minimal 10 anak dengan jenis ujian yang sama. Untuk workshop juga masih terbuka lebar.
Tantangan yang kedua adalah mungkin meningkatkan rasa percaya diri orangtua dan anak-anak homeschool bahwa kita semua MAMPU dan BISA mengikuti ujian internasional. Dan ini kami harapkan saling mendukung dan saling bahu membahu menuju kesana.
Terakhir, kami mengajak CIE UAI dan Pak Denny khususnya untuk “brainstorming” kepada orangtua baik yang sekolah maupun praktisi homeschool mengenai Cambridge dan bagaimana pelaksanaan ujian secara mandiri. Pak Denny sendiri sudah bersedia nih. Seru kan? ^_^
Maju terus pendidikan Indonesia!! ^_^
December 16, 2011
December 14, 2011
Belajar Dirumah namun bisa Ikutan UN di sekolah formal
Sebenarnya hal ini sudah ada yang melakukan namun belum banyak
Ada beberapa sekolah yang menerima anak-anak sekolah rumah untuk ikut ujian
di sekolah formal.
Teknisnya ya sesuai aturan harus mengajukan mutasi dari pend In formal ke Formal
semoga berita ini semakin bisa membuka kesempatan yang ingin mendapatkan ijasah sebagaiman anak formal.
JAKARTA, KOMPAS.com - Anak-anak sekolah rumah usia sekolah mulai tahun 2012 diarahkan secara bertahap untuk ikut ujian nasional sekolah formal. Selama ini, siswa sekolah rumah mengikuti ujian nasional kesetaraan Paket A, B, dan C atau setara SD, SMP, dan SMA untuk mendapat ijazah sesuai jenjang pendidikan.
"Pendidikan di sekolah rumah juga berkualitas. Sebenarnya, pemerintah mau supaya anak-anak usia sekolah belajar di sekolah formal. Tetapi memang ada anak-anak usia sekolah yang memilih homeschooling. Hak anak-anak ini juga mesti dilindungi," kata Didik Suhardi, Direktur Pembinaan SMP, Ditjen Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Senin (12/12/2011).
Belum lama ini, Ditjen Pendidikan Dasar Kemendikbud mengeluarkan aturan yang menghambat anak-anak sekolah rumah atau homeschooling jenjang SMP untuk ikut ujian nasional kesetaraan Paket B. Siswa yang boleh ikut ujian kesetaraan Paket B harus berusia minimal 18 tahun atau boleh di bawah 18 tahun asal sudah berkeluarga atau pernah menikah.
Kebijakan tersebut tentu saja merugikan anak-anak homeschooling usia sekolah di jenjang SMP. Sebab, kebijakan pemerintah soal pendidikan informal mengatur penyetaraan hasil belajar anak-anak homeschooling lewat ujian nasional kesetaraan.
Menurut Didik, sayang jika anak-anak homeschooling usia sekolah yang mendapat layanan pendidikan yang kualitasnya seperti sekolah formal hanya mendapat ijazah Paket A, B, atau C. Dengan adanya kebijakan baru yang bakal dilakukan secara bertahap, anak-anak homeschooling usia sekolah nantinya bisa ikut ujian nasional di sekolah formal.
"Memang masih perlu dibahas lebih lanjut cara mengkonversi hasil belajar siswa sekolah rumah yang bisa diterima sekolah formal. Nanti, sekolah formal harus terbuka untuk bisa menerima anak-anak sekolah rumah yang hendak bergabung untuk ikut UN sekolah formal," kata Didik.
Munasprianto Ramli dari Divisi Penelitian dan Pengembangan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena), mengatakan selama ini memang ada anak-anak homeschooling yang ikut UN sekolah formal. Tetapi selama ini dilakukan secara diam-diam sehingga berkesan ilegal. Tidak semua pimpinan sekolah terbuka untuk menerima anak-anak homeschooling terdaftar di sekolahnya. Akhirnya, banyak anak-anak sekolah rumah yang pilih UN kesetaraan, ujar Munasprianto.
Menurut Munasprianto, sudah saatnya di Indonesia ada sekoalh payung bagi anak-anak homeschooling. Anak-anak usia sekolah tetap belajar lewat jalur sekolah rumah, namun sesekali bisa bergabung belajar di sekolah reguler dan ikut UN sekolah formal.
Munasprianto menambahkan anak-anak homeschooling usia sekolah sebenarnya selama ini dirugikan jika hanya boleh ikut UN kesetraan. Pasalnya, pelaksanaan UN kesetaraan sering berubah-ubah dan pengumuman kelulusan sering terlambat.
"Akibatnya, anak-anak homeschooling tidak bisa daftar sekolah atau kampus di tahun ajaran yang sama karena penyelenggaraan UN kesetaraan setelah UN formal," kata Munasprianto.
Sumber
http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/12/15585312/siswa.sekolah.rumah.ikut.un.formal
Ada beberapa sekolah yang menerima anak-anak sekolah rumah untuk ikut ujian
di sekolah formal.
Teknisnya ya sesuai aturan harus mengajukan mutasi dari pend In formal ke Formal
semoga berita ini semakin bisa membuka kesempatan yang ingin mendapatkan ijasah sebagaiman anak formal.
JAKARTA, KOMPAS.com - Anak-anak sekolah rumah usia sekolah mulai tahun 2012 diarahkan secara bertahap untuk ikut ujian nasional sekolah formal. Selama ini, siswa sekolah rumah mengikuti ujian nasional kesetaraan Paket A, B, dan C atau setara SD, SMP, dan SMA untuk mendapat ijazah sesuai jenjang pendidikan.
"Pendidikan di sekolah rumah juga berkualitas. Sebenarnya, pemerintah mau supaya anak-anak usia sekolah belajar di sekolah formal. Tetapi memang ada anak-anak usia sekolah yang memilih homeschooling. Hak anak-anak ini juga mesti dilindungi," kata Didik Suhardi, Direktur Pembinaan SMP, Ditjen Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Senin (12/12/2011).
Belum lama ini, Ditjen Pendidikan Dasar Kemendikbud mengeluarkan aturan yang menghambat anak-anak sekolah rumah atau homeschooling jenjang SMP untuk ikut ujian nasional kesetaraan Paket B. Siswa yang boleh ikut ujian kesetaraan Paket B harus berusia minimal 18 tahun atau boleh di bawah 18 tahun asal sudah berkeluarga atau pernah menikah.
Kebijakan tersebut tentu saja merugikan anak-anak homeschooling usia sekolah di jenjang SMP. Sebab, kebijakan pemerintah soal pendidikan informal mengatur penyetaraan hasil belajar anak-anak homeschooling lewat ujian nasional kesetaraan.
Menurut Didik, sayang jika anak-anak homeschooling usia sekolah yang mendapat layanan pendidikan yang kualitasnya seperti sekolah formal hanya mendapat ijazah Paket A, B, atau C. Dengan adanya kebijakan baru yang bakal dilakukan secara bertahap, anak-anak homeschooling usia sekolah nantinya bisa ikut ujian nasional di sekolah formal.
"Memang masih perlu dibahas lebih lanjut cara mengkonversi hasil belajar siswa sekolah rumah yang bisa diterima sekolah formal. Nanti, sekolah formal harus terbuka untuk bisa menerima anak-anak sekolah rumah yang hendak bergabung untuk ikut UN sekolah formal," kata Didik.
Munasprianto Ramli dari Divisi Penelitian dan Pengembangan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena), mengatakan selama ini memang ada anak-anak homeschooling yang ikut UN sekolah formal. Tetapi selama ini dilakukan secara diam-diam sehingga berkesan ilegal. Tidak semua pimpinan sekolah terbuka untuk menerima anak-anak homeschooling terdaftar di sekolahnya. Akhirnya, banyak anak-anak sekolah rumah yang pilih UN kesetaraan, ujar Munasprianto.
Menurut Munasprianto, sudah saatnya di Indonesia ada sekoalh payung bagi anak-anak homeschooling. Anak-anak usia sekolah tetap belajar lewat jalur sekolah rumah, namun sesekali bisa bergabung belajar di sekolah reguler dan ikut UN sekolah formal.
Munasprianto menambahkan anak-anak homeschooling usia sekolah sebenarnya selama ini dirugikan jika hanya boleh ikut UN kesetraan. Pasalnya, pelaksanaan UN kesetaraan sering berubah-ubah dan pengumuman kelulusan sering terlambat.
"Akibatnya, anak-anak homeschooling tidak bisa daftar sekolah atau kampus di tahun ajaran yang sama karena penyelenggaraan UN kesetaraan setelah UN formal," kata Munasprianto.
Sumber
http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/12/15585312/siswa.sekolah.rumah.ikut.un.formal
December 13, 2011
UCAPAN SELAMAT
Meski ada yang sempat mengulang
karena tidak lulus pada ujian Juni 2011 Lalu
Akhirnya semuanya bisa LULUS
pada ujian Oktober 2011
Selamat Kepada :
Fransisco Kevin, William, Andrea Suyanto, Nico Moeljotanto
Melly B, Bhaga Aninditatama, Annisa Ayu laras Atika, M. Ya'Qub, S. Choiriyah
Arief Ridwan, Bill Hartanto, Adinda Az, Nabil Achmad F
Salam Dahsyat...!!!
December 12, 2011
Siswa Sekolah Rumah Dipersulit Ikut Ujian Kesetaraan

JAKARTA, KOMPAS.com- Anak-anak usia belajar di jenjang SMP yang memilih sekolah rumah atau homeschooling dipersulit untuk ikut ujian nasional kesetaraan program Paket B atau setara SMP. Pasalnya, syarat peserta ujian kesetaraan Paket B yang diperbolehkan pemerintah berusia di atas 18 tahun atau boleh di bawah usia 18 tahun asal sudah berkeluarga atau pernah menikah.
Peraturan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu dinilai diskriminatif terhadap anak-anak sekolah rumah. Padahal, pilihan untuk menjalankan pendidikan informal seperti sekolah rumah diakui di Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
Budi Trikorayanto, Sekretaris Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) di Jakarta, Minggu (11/12/2011), mengatakan, di dalam UU Sisdiknas diatur bahwa penyetaraan peserta pendidikan informal dengan mengikuti ujian kesetaraan Paket A (SD), B (SMP), dan C (SMA/SMK). Anak-anak yang memilih jalur pendidikan informal lewat sekolah rumah tunggal atau komunitas umumnya anak-anak usia belajar dari kalangan mampu dan keluarga miskin.
"Aneh, jika pemerintah mempersulit anak-anak usia belajar di homeschooling untuk ikut ujian kesetaraan, terutama Paket B. Hak anak-anak untuk memilih pendidikan di jalur sekolah rumah justru dikebiri lewat aturan-aturan yang menggiring mereka hanya bersekolah di sekolah formal," ujar Budi.
Erlina VF Ratu, Ketua Komunitas Sekolah Rumah Pelangi di Tangerang, mengatakan, anak-anak sekolah rumah yang ingin mendapatkan pendidikan terbaik di jalur pendidikan informal terus saja didiskriminasi. "Masa anak-anak sekolah rumah sekolah rumah usia SMP mesti kawin dulu baru boleh ikut ujian kesetaraan Paket B? Kebijakan ini justru merugikan program wajib belajar yang harus dilaksanakan dan dilindungi pemerintah karena amanat konstitusi," kata Erlina.
Ternyata tulisan ini cukup ampuh untuk menggerakkan DIRJEN yang mengundang untuk ketemu dalam rangka kebijakan yang lebih berpihak pada pendidikan Informal....
Thanks teman-teman atas upaya ini
Salam Dasyat
December 11, 2011
Aturan Tentang Pendidikan Informal Th 2010
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 17 TAHUN 2010
TENTANG
PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Pada no ini masih ada :
39. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
Pada halaman 95 ada Bab seperti ini
BAB V
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL
Pasal 116
Pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Pasal 117
(1) Hasil pendidikan informal dapat dihargai setara dengan hasil pendidikan nonformal dan formal setelah melalui uji kesetaraan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah
sesuai kewenangan masing-masing, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Uji kesetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan melalui:
a. Uji kesetaraan yang berlaku bagi peserta didik pendidikan nonformal sebagaimana diatur dalam Pasal 115; dan
b. Uji kesetaraan yang diatur dengan Peraturan Menteri untuk hasil pendidikan informal lain yang berada di luar lingkup ketentuan dalam Pasal 115.
Setahu saya belum ada yang mengganti aturan ini...,
tapi bila ada yang lebih tahu mohon bisa menambahkan..
salam dahsyat
NOMOR 17 TAHUN 2010
TENTANG
PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Pada no ini masih ada :
39. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
Pada halaman 95 ada Bab seperti ini
BAB V
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL
Pasal 116
Pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Pasal 117
(1) Hasil pendidikan informal dapat dihargai setara dengan hasil pendidikan nonformal dan formal setelah melalui uji kesetaraan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah
sesuai kewenangan masing-masing, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Uji kesetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan melalui:
a. Uji kesetaraan yang berlaku bagi peserta didik pendidikan nonformal sebagaimana diatur dalam Pasal 115; dan
b. Uji kesetaraan yang diatur dengan Peraturan Menteri untuk hasil pendidikan informal lain yang berada di luar lingkup ketentuan dalam Pasal 115.
Setahu saya belum ada yang mengganti aturan ini...,
tapi bila ada yang lebih tahu mohon bisa menambahkan..
salam dahsyat
Pilihan juga mengandung resiko..!!
Banyak orang tua akan bangga dengan kemampuan anaknya
Banyak orang tua juga akan bangga saat anaknya masuk di sekolah favorit
Banyak orang tua yang berupaya dengan segala cara untuk bisa masuk jalur akselerasi
Padahal tidak semua anak-anak mereka sebangga sebagaimana ortunya.
Pada beberapa saat yang lalu ada anak yang mengalami tekanan disekolah,
Orang tua sudah berupaya, begitu juga guru-gurunya, ternyata
jalur akselearsi yang dia lalui itu bukan menjadi kehendaknya meski IQ 133,
namun lebih karena upaya dan keinginan orang tuanya.
akhirnya sianak bisa menemukan model belajar yang dia suka.. dan selesai tepat sesuai waktunya.
Pada cerita yang lain Pesantren adalah salah satu tempat yang juga baik untuk pendidikan anak-anak kita.., berbagai ragam pesantren yang ada di Jawa ini,
ada pengelola yang sudah profesional, juga ada beberapa pesantren kecil yang
santrinya juga tidak banyak.
Orang tua kadang berharap Sangat berharap besar saat memilihkan pendidikan Akademis plus agamanya di salah satu pesantrean favorit yg mungkin sudah di survey terlebih dahulu ataupun kadang dari rekomendasi teman, namun saat seorang anak yang dalam kondisi terpaksa dan dipakasa untuk tinggal di pesantren, tentu ini juga bisa berdampak kurang baik.
Saat keluar.. ternyata mereka ada kebebasan yang tidak ada selama ini, sehingga
kebebasan tersebut mengakibatkan menjurus pada hal yang tidak manfaat.
Satu lagi saat 2 tahun lalu datang seorang anak yang pandai.. dengan bekal nilai-
nilai yang bagus disekolahnya dan beasiswa yang dapat dia raih dari Belanda..
Pergaulan remaja menghantarkan dia harus keluar dari sekolah favorit di kotanya,
Ibunya dan ayahnya hanyalah seorang buruh kasar, tentunya sangat kerepotan mengawal
sianak yang sudah mulai puber dan mengenal teknologi canggih,
hari-hari dilewati dengan hal yang kurang tepat, meski biaya sekolah dan lain-lain
sudah diupayakan gratis dan dibimbing oleh beberapa pendamping belajar, namun akhirnya juga tidak bisa selesai kegiatan belajarnya.
beberapa kasus diatas.. adalah mengungkapkan betapa penting peran orang tua dalam mengawal anak-anak mereka Sekolah yang bagus bukan jaminan membuat anak senang, Pesantrenpun demikian, Kepandaian anakpun juga menjadi mubadzir bila ternyata orang tua tidak bisa mengawalnya..
Demikian juga dengan kegiatan belajar mandiri, sekolah rumah dll. saat kita melakukanya dengan asal-asalan tentunya dampaknya akan berbeda bila kita melakukannya dengan konsep yang jelas dan anak-anak bisa melakukannya dengan nyaman tanpa suatu paksaan.
Tidak ada yang bisa menjamin Sekolah hebat akan menghasilkan anak yg juga hebat, demikian juga Tidak juga jaminan anak sekolah rumah juga akan sukses.. !!
Mau pilih sekolah ataupun tidak sekolah.... yang terpenting bagaimana kita bisa senantiasa mengawal anak-anak dengan memberikan bekal yang terbaik untuk dia yang tentunya bisa bermanfaat kelak dikemudian hari.
Ada yang berpesan " Janganlah anda jadi OTBK (Orang Tua Berkebutuhan khusus..! ) yang suka memaksakan kehendak pada anak-anaknya tanpa memperdulikan proses alami yang ada pada diri si anak
Anak juga punya Hak, anak juga ingin bersuara dan suara mereka juga ingin didengar..
Salam Dahsyat semoha bermanfaat
Banyak orang tua juga akan bangga saat anaknya masuk di sekolah favorit
Banyak orang tua yang berupaya dengan segala cara untuk bisa masuk jalur akselerasi
Padahal tidak semua anak-anak mereka sebangga sebagaimana ortunya.
Pada beberapa saat yang lalu ada anak yang mengalami tekanan disekolah,
Orang tua sudah berupaya, begitu juga guru-gurunya, ternyata
jalur akselearsi yang dia lalui itu bukan menjadi kehendaknya meski IQ 133,
namun lebih karena upaya dan keinginan orang tuanya.
akhirnya sianak bisa menemukan model belajar yang dia suka.. dan selesai tepat sesuai waktunya.
Pada cerita yang lain Pesantren adalah salah satu tempat yang juga baik untuk pendidikan anak-anak kita.., berbagai ragam pesantren yang ada di Jawa ini,
ada pengelola yang sudah profesional, juga ada beberapa pesantren kecil yang
santrinya juga tidak banyak.
Orang tua kadang berharap Sangat berharap besar saat memilihkan pendidikan Akademis plus agamanya di salah satu pesantrean favorit yg mungkin sudah di survey terlebih dahulu ataupun kadang dari rekomendasi teman, namun saat seorang anak yang dalam kondisi terpaksa dan dipakasa untuk tinggal di pesantren, tentu ini juga bisa berdampak kurang baik.
Saat keluar.. ternyata mereka ada kebebasan yang tidak ada selama ini, sehingga
kebebasan tersebut mengakibatkan menjurus pada hal yang tidak manfaat.
Satu lagi saat 2 tahun lalu datang seorang anak yang pandai.. dengan bekal nilai-
nilai yang bagus disekolahnya dan beasiswa yang dapat dia raih dari Belanda..
Pergaulan remaja menghantarkan dia harus keluar dari sekolah favorit di kotanya,
Ibunya dan ayahnya hanyalah seorang buruh kasar, tentunya sangat kerepotan mengawal
sianak yang sudah mulai puber dan mengenal teknologi canggih,
hari-hari dilewati dengan hal yang kurang tepat, meski biaya sekolah dan lain-lain
sudah diupayakan gratis dan dibimbing oleh beberapa pendamping belajar, namun akhirnya juga tidak bisa selesai kegiatan belajarnya.
beberapa kasus diatas.. adalah mengungkapkan betapa penting peran orang tua dalam mengawal anak-anak mereka Sekolah yang bagus bukan jaminan membuat anak senang, Pesantrenpun demikian, Kepandaian anakpun juga menjadi mubadzir bila ternyata orang tua tidak bisa mengawalnya..
Demikian juga dengan kegiatan belajar mandiri, sekolah rumah dll. saat kita melakukanya dengan asal-asalan tentunya dampaknya akan berbeda bila kita melakukannya dengan konsep yang jelas dan anak-anak bisa melakukannya dengan nyaman tanpa suatu paksaan.
Tidak ada yang bisa menjamin Sekolah hebat akan menghasilkan anak yg juga hebat, demikian juga Tidak juga jaminan anak sekolah rumah juga akan sukses.. !!
Mau pilih sekolah ataupun tidak sekolah.... yang terpenting bagaimana kita bisa senantiasa mengawal anak-anak dengan memberikan bekal yang terbaik untuk dia yang tentunya bisa bermanfaat kelak dikemudian hari.
Ada yang berpesan " Janganlah anda jadi OTBK (Orang Tua Berkebutuhan khusus..! ) yang suka memaksakan kehendak pada anak-anaknya tanpa memperdulikan proses alami yang ada pada diri si anak
Anak juga punya Hak, anak juga ingin bersuara dan suara mereka juga ingin didengar..
Salam Dahsyat semoha bermanfaat
December 6, 2011
Anak Sindrom Tourett yg berjuang di UN
Kalau kita pernah membaca FRONT of THE CLASS , yaitu kisah sukses seorang guru penderita sindrom tourett mungkin kita bisa lebih bersemangat...
ada kutipan seperti ini " aku ingin menjadi guru hebat yang tak pernah kumiliki selama ini, Aku ingin menjadi sosok panuntan yang baik dan penuh perhatian bagi anak-anak dan dapat mendatangkan perubahan positif dalam hidup mereka "
Buku yang diberikan salah satu orang tua yang ber sinergi dengan kami untuk mengawal anaknya yang mengalami Sindrom tourett.
Seorang anak yang datang dari luar pulau karena harus keluar dari sekolah SMP nya yang merasa terganggu karena aktifitasnya, Anak seperti ini biasanya memiliki ciri : keluar suara, bergerak gerak yang terus menerus seperti menghentak dan ada kecenderungan usil.
Dari sisi kemampuan Akademisnya... biasa anak seperti di bawah rata-rata.
Kecenderungan pertanyaan yang suka diulang-ulang menjadi kebosanan teman bahkan guru yang membimbingnya.
Pada proses kegiatan belajar.. si anak agak kurang fokus dan selalu berbicara atau bercerita.. ,
Namun Alhamdulilah ada kelebihan yg dia miliki... keberanian dan Pd yang luar bisasa kami coba untuk bisa mengoptimalkan potensinya menjadi suatu kekuatan yang kelak akan bisa menghantarnya menjadi pribadi yang mandiri.
oh ya.. bagaimana persiapan yang dia lakukan untuk menghadapi UN ...?
Meski kadang agak susah mengawal dia untuk belajar materi UN.., tapi teman - teman yang mendampingin terus sabar mengawal dan memotivasi untuk belajar.
Di rumahpun Orang tua menyiapkan pendamping belajar...yang tenyunya juga harus memiliki kesabaran yang lebih.
kecenderungan mengajak berceria tentang hal lain selalu dilakukan saat pembahasan
beberapa materi yang akan di ujikan.
Anak seperti ini biasanya mengkosumsi obat khusus untuk mengurangi gerakannya.., namun ternyata ada dampak lain yang muncul saat anak iniminum obat tsb.., biasanya dia akan cepat ngantuk an.. dan saat belajarpun dia terlihat ngantuk berat.
Anak ini tidak mau merasa dikasiani, tapi yang terpenting dia ingin diberi kesempatan dia bisa melakukan suatu hal.
Dengan keyakinan bahwa dia bisa melewati ujian yang akan dia hadapi..., kamipun bersama orang tua mencoba memberikan yang terbaik dalam menjadi teman belajar dalam persiapan ujiannya.
Anak Berkebutuhan khusus..., bukanlah produk Allah yang gagal, karena Allah tidak pernah gagal dalam menciptakan sesuatu hal, jadi keyakinan kita bahwa dia pasti memiliki potensi yang kita harapkan menjadi sarana untuk mencapai hal yang bermanfaat kelak , sebagaimana menjalani ujian Nasional ini.
Saat ujian pertama tahun 2010... dia tetap kita ikut sertakan ujian sebagaimana anak-anak pada umumnya... dan saat pengumuman... diperoleh dia Gagal lulus.. dgn nilai hanya kurang 0,25 dari rata-rata ketentuan kelululsan.
Maka saat ujian ke 2 pada beberapa bulan setelahnya kita mencoba membantu mempersiapkan lebih baik lagi, dan Alahamdulillah kegagalan pertama membuat dia lebih bersemangat lagi untuk berbuat yang terbaik.
Akhirnya supoort Orang Tua dan beberapa teman-teman, pada ujian yang ke 2 dia berhasil lulus... dari Paket B.... hasil perjuangannya sendiri.
Sekarang keluarganya telah pindah dari Pulau yang paling di minati di negeri ini ke Kota Malang demi kelangsungan kegiatan belajar anaknya..
Tiada hal yang tidak bisa kita lewati bila kita selalu berupaya
dan setiap anak selalu memiliki potensi yang itu bisa membuatnya bangkit
untuk menjadi lebih baik
Semoga sedikit ini bisa bermanfaat
Salam Dahsyat...!!
ada kutipan seperti ini " aku ingin menjadi guru hebat yang tak pernah kumiliki selama ini, Aku ingin menjadi sosok panuntan yang baik dan penuh perhatian bagi anak-anak dan dapat mendatangkan perubahan positif dalam hidup mereka "
Buku yang diberikan salah satu orang tua yang ber sinergi dengan kami untuk mengawal anaknya yang mengalami Sindrom tourett.
Seorang anak yang datang dari luar pulau karena harus keluar dari sekolah SMP nya yang merasa terganggu karena aktifitasnya, Anak seperti ini biasanya memiliki ciri : keluar suara, bergerak gerak yang terus menerus seperti menghentak dan ada kecenderungan usil.
Dari sisi kemampuan Akademisnya... biasa anak seperti di bawah rata-rata.
Kecenderungan pertanyaan yang suka diulang-ulang menjadi kebosanan teman bahkan guru yang membimbingnya.
Pada proses kegiatan belajar.. si anak agak kurang fokus dan selalu berbicara atau bercerita.. ,
Namun Alhamdulilah ada kelebihan yg dia miliki... keberanian dan Pd yang luar bisasa kami coba untuk bisa mengoptimalkan potensinya menjadi suatu kekuatan yang kelak akan bisa menghantarnya menjadi pribadi yang mandiri.
oh ya.. bagaimana persiapan yang dia lakukan untuk menghadapi UN ...?
Meski kadang agak susah mengawal dia untuk belajar materi UN.., tapi teman - teman yang mendampingin terus sabar mengawal dan memotivasi untuk belajar.
Di rumahpun Orang tua menyiapkan pendamping belajar...yang tenyunya juga harus memiliki kesabaran yang lebih.
kecenderungan mengajak berceria tentang hal lain selalu dilakukan saat pembahasan
beberapa materi yang akan di ujikan.
Anak seperti ini biasanya mengkosumsi obat khusus untuk mengurangi gerakannya.., namun ternyata ada dampak lain yang muncul saat anak iniminum obat tsb.., biasanya dia akan cepat ngantuk an.. dan saat belajarpun dia terlihat ngantuk berat.
Anak ini tidak mau merasa dikasiani, tapi yang terpenting dia ingin diberi kesempatan dia bisa melakukan suatu hal.
Dengan keyakinan bahwa dia bisa melewati ujian yang akan dia hadapi..., kamipun bersama orang tua mencoba memberikan yang terbaik dalam menjadi teman belajar dalam persiapan ujiannya.
Anak Berkebutuhan khusus..., bukanlah produk Allah yang gagal, karena Allah tidak pernah gagal dalam menciptakan sesuatu hal, jadi keyakinan kita bahwa dia pasti memiliki potensi yang kita harapkan menjadi sarana untuk mencapai hal yang bermanfaat kelak , sebagaimana menjalani ujian Nasional ini.
Saat ujian pertama tahun 2010... dia tetap kita ikut sertakan ujian sebagaimana anak-anak pada umumnya... dan saat pengumuman... diperoleh dia Gagal lulus.. dgn nilai hanya kurang 0,25 dari rata-rata ketentuan kelululsan.
Maka saat ujian ke 2 pada beberapa bulan setelahnya kita mencoba membantu mempersiapkan lebih baik lagi, dan Alahamdulillah kegagalan pertama membuat dia lebih bersemangat lagi untuk berbuat yang terbaik.
Akhirnya supoort Orang Tua dan beberapa teman-teman, pada ujian yang ke 2 dia berhasil lulus... dari Paket B.... hasil perjuangannya sendiri.
Sekarang keluarganya telah pindah dari Pulau yang paling di minati di negeri ini ke Kota Malang demi kelangsungan kegiatan belajar anaknya..
Tiada hal yang tidak bisa kita lewati bila kita selalu berupaya
dan setiap anak selalu memiliki potensi yang itu bisa membuatnya bangkit
untuk menjadi lebih baik
Semoga sedikit ini bisa bermanfaat
Salam Dahsyat...!!
December 5, 2011
Anak Homeschooling bisa Ujian di Sekolah Formal ?
Bagi yang banyak belum mengetahui
semoga ini bermanfaat
Kebijakan pemerintah sebenarnya banyak yang sudah mengatur dan bagaimana bisa melayani
masyarakat, meski juga banyak kebijakan yang masih harus mendapatkan perhatian untuk
diperbaiki atau disempurnakan.
Dalam melakukan Homeschooling ada beberapa keluarga yang masih menginginkan ijasah sebagai hasilakhir kegiatan belajarnya, dan saya pikir sebagian besar masih seperti itu.
Ada yang ingin mendapatkan ijasah dari Luar Negeri dan ada juga yang masih mengupayakan ijasah dari negeri sendiri.
Polemik tentang kenapa anak Hs kok ijasahnya paket C pun masih sering kita dengar, dan rata-rata hal ini yang membuat langkah para homschooler jadi bimbang, namun apakah tidak bisa anak Hs itu mendapatkan ijasah sebagaimana anak di sekolah FORMAL ? jawabnya adalah bisa...!!!
Terus bagaimana... caranya,,,?
Ada beberapa prosedur atau langkah yang bisa dilakukan :
1. bisa saja anak Hs mencari sekolah payung dan terdaftar di sekolah tsb, sejak dari
kelas 1 SD atau 1 SMP/SMA
2. Anak yang sudah melakukan Hs pada paling lambat 1 th sebelum ujian pindah jalur ke
sekolah formal. nanti akan dilakukan test penempatan...(ada aturan dr Pemerintah )
3. Anak bisa juga daftar 1 tahun sebelumnya ujian di Sekolah yang menjadi mitra dan
tetap belajar sebagai Hs, hingga pelaksanaan ujian nasional. ini juga menggunakan
surat mutasi.
Bagaimana biayanya.... , tentunya tiap-tiap sekolah memiliki kebijakan yang berbeda, biasanya sekolah tetap mengharuskan si siswa membayar biaya tertentu.. ada yang uang pangkal plus spp 1 tahun ( biasanya sekolah swasta) dan bila negeri mungkin juga punya kebijakan yang lain.
ini informasi bukan untuk nakut-nakuti....salam dahsyat
December 2, 2011
Kebimbangan saat Homeschooling
Moga bermanfaat..
Mulai maraknya Hs di tahun 2006 hingga 2007 menarik perhatian saya..
yang terus terang tidak puas dengan apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di Negeri ini.
Bagaimana mungkin anak SD ditentukan kelulusannya hanya dengan 3 Bid studi
sementara bid. yg lain yg juga diajarkan tidak berpengaruh sama sekali saat
kelulusan. (waktu itu)
Belum lagi pelaksanaan UN sendiri yg sering masih tidak sesuai ... dengan hati
Pengalaman pribadi yg bekerja dengan tidak mengandalkan ijasah akhirnya
mendorong saya untuk membuat apa yang bisa sy buat.
Anak ke 2 kami mulai mengginjak usia Tk.., sementara kami kurang cocok dengan model Tk disekitar kami, akhirnya kami buat Tk sesuai dengan keinginan kami bersama beberapa teman-teman.
Segala keperluan kita buat simpel dan murah... dan kardus bekas menjadi hal yg sangat penting bagi media yg kita buat.
2 tahun nyaman anak kami bisa menikmati sekolah yg kita inginkan...
KEGELISAHAN pun timbul saat menginjak usia SD.. karena tidak mungkin saya buat SD yg tentunya gak semudah kayak buat TK.
Maka pada th 2006 sebuah buku Ummy yang diberikan oleh seorang sahabat baik kami, mulailah kami belajar apa itu belajar mandiri (belajar dirumah) ternyata pada artikel tersebut ada kisah Keluarga Vanda, Neno warisman dll.
Kamipun bingung harus bagaimana., karena saat itu tidak seperti sekarang yg tinggal buka Google dengan kata kunci sekolah rumah / Hs maka akan muncul banyak sekali informasi.
Saat itu hanya dengan keyakinan dan kemantapan hati.. bahwa saya harus lakukan yang terbaik bagi anak kami, maka dengan membuat proposal alakadarnya mungkin bisa juga disebut portofolio dan dilengkapi dengan beberapa kliping tentang Hs, maka saya menghadap ke Kepala Dinas Kota Malang.
Pertemuan tidak berjalan mulus tentunya, kami harus sabar menunggu dan ditolak oleh beberapa staf dibawahnya.
Hingga pada suatu saat Sms kamipun dibalas untuk bisa bertemu langsung dengan beliau.
Pertemuan yang tidak terlalu lama sekitar 15 menit (krn kesibukan Beliau) sudah cukup melegakan kami untuk melangkah..
Beliau hanya bilang " lakukan yg yakin Anda lakukan.. dan ini merupakan hal baru di Kota Malang, demi pendidikan anak sy harus bisa bantu, dan bila ada staf saya yang mempersulit.. tinggal sms saya...! " ini penyampaian lisan yang sungguh menjadi semangat kami.
Saya tidak mengenal Model School At Home, Cm, Unschooling dll. karena dunia internet saat itu masih belum merupakan bagian yang sering kami manfaatkan, meski untuk urusan kerja sdh saya manfaatkan sejak th 1994.
Kami jalan yang kami bisa... dan karena yg kami tahu setiap perjalanan pendidikan anak usia sekolah harus diketahui oleh Dinas Setempat, maka saat kami tanya kita harus lapor ke mana pak.. ?.. Kepala Dinaspun masih bingung masuk di bagian mana ? apa Pend Dasar (sebagaimana anak Formal) atau kesetaraan.
Yang terpenting bagi saya saat itu setiap yang kami lakukan dan berhubungan dengan perkembangan kegiatan belajar anak kami, baik saat ikut seminar di Jakarta atau di kota lain kami selalu laporkan pada Pak Kepala Dinas via SMS, dan gak terlalu berharap untuk dijawab atau dikomentari... dapat jawaban Okey / Bagus aja sudah membuat semangat kami bertambah.
Hingga pada saat launching HSKS dan peluncuran mobil berjalan Asahpena.. sy dikenalkan oleh mbak Ermalen derwita, Mas Aar dan Lala, Mbak Yanti, B yayah .. pertemuan yang sekejap saja cukup melegakan kami yang harus berangkat dan pulang Malang-jakarta dengan bis seadanya...(he he he ) Ingat .. kata Mbak lala waktu itu... wah maua jagain lumpur lapindo ya kok cepat-cepat balik ke Jawa Timur...!!!
Hingga kelas 3 kami terus konsisten dengan Hs kami meski menjadi bahan omongan tetangga dan keluarga besar kami... yg meragukan kegiatan kami..
Banyak teman kami di Malang juga akhirnya memilih sekolah formal saat usia menginjak SD.. , inipun tidak salah.. karena dalam pilihan ini perlu juga konsistensi akan hal yang telah diputuskan.
Kebimbangan akan muncul saat anda hanya ikut-ikutan Eforia..
Namun Kebimbangan akan bisa Anda lewati bila keputusan yang Anda buat merupakan keputusan Keluarga yang tentunya harus saling supoort antara Istri dan Suami serta kenyamanan anak kita dalam melakukannya.
Salam Dahsyat semoga sedikit bisa menambah semangat Anda..!!!
Mulai maraknya Hs di tahun 2006 hingga 2007 menarik perhatian saya..
yang terus terang tidak puas dengan apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di Negeri ini.
Bagaimana mungkin anak SD ditentukan kelulusannya hanya dengan 3 Bid studi
sementara bid. yg lain yg juga diajarkan tidak berpengaruh sama sekali saat
kelulusan. (waktu itu)
Belum lagi pelaksanaan UN sendiri yg sering masih tidak sesuai ... dengan hati
Pengalaman pribadi yg bekerja dengan tidak mengandalkan ijasah akhirnya
mendorong saya untuk membuat apa yang bisa sy buat.
Anak ke 2 kami mulai mengginjak usia Tk.., sementara kami kurang cocok dengan model Tk disekitar kami, akhirnya kami buat Tk sesuai dengan keinginan kami bersama beberapa teman-teman.
Segala keperluan kita buat simpel dan murah... dan kardus bekas menjadi hal yg sangat penting bagi media yg kita buat.
2 tahun nyaman anak kami bisa menikmati sekolah yg kita inginkan...
KEGELISAHAN pun timbul saat menginjak usia SD.. karena tidak mungkin saya buat SD yg tentunya gak semudah kayak buat TK.
Maka pada th 2006 sebuah buku Ummy yang diberikan oleh seorang sahabat baik kami, mulailah kami belajar apa itu belajar mandiri (belajar dirumah) ternyata pada artikel tersebut ada kisah Keluarga Vanda, Neno warisman dll.
Kamipun bingung harus bagaimana., karena saat itu tidak seperti sekarang yg tinggal buka Google dengan kata kunci sekolah rumah / Hs maka akan muncul banyak sekali informasi.
Saat itu hanya dengan keyakinan dan kemantapan hati.. bahwa saya harus lakukan yang terbaik bagi anak kami, maka dengan membuat proposal alakadarnya mungkin bisa juga disebut portofolio dan dilengkapi dengan beberapa kliping tentang Hs, maka saya menghadap ke Kepala Dinas Kota Malang.
Pertemuan tidak berjalan mulus tentunya, kami harus sabar menunggu dan ditolak oleh beberapa staf dibawahnya.
Hingga pada suatu saat Sms kamipun dibalas untuk bisa bertemu langsung dengan beliau.
Pertemuan yang tidak terlalu lama sekitar 15 menit (krn kesibukan Beliau) sudah cukup melegakan kami untuk melangkah..
Beliau hanya bilang " lakukan yg yakin Anda lakukan.. dan ini merupakan hal baru di Kota Malang, demi pendidikan anak sy harus bisa bantu, dan bila ada staf saya yang mempersulit.. tinggal sms saya...! " ini penyampaian lisan yang sungguh menjadi semangat kami.
Saya tidak mengenal Model School At Home, Cm, Unschooling dll. karena dunia internet saat itu masih belum merupakan bagian yang sering kami manfaatkan, meski untuk urusan kerja sdh saya manfaatkan sejak th 1994.
Kami jalan yang kami bisa... dan karena yg kami tahu setiap perjalanan pendidikan anak usia sekolah harus diketahui oleh Dinas Setempat, maka saat kami tanya kita harus lapor ke mana pak.. ?.. Kepala Dinaspun masih bingung masuk di bagian mana ? apa Pend Dasar (sebagaimana anak Formal) atau kesetaraan.
Yang terpenting bagi saya saat itu setiap yang kami lakukan dan berhubungan dengan perkembangan kegiatan belajar anak kami, baik saat ikut seminar di Jakarta atau di kota lain kami selalu laporkan pada Pak Kepala Dinas via SMS, dan gak terlalu berharap untuk dijawab atau dikomentari... dapat jawaban Okey / Bagus aja sudah membuat semangat kami bertambah.
Hingga pada saat launching HSKS dan peluncuran mobil berjalan Asahpena.. sy dikenalkan oleh mbak Ermalen derwita, Mas Aar dan Lala, Mbak Yanti, B yayah .. pertemuan yang sekejap saja cukup melegakan kami yang harus berangkat dan pulang Malang-jakarta dengan bis seadanya...(he he he ) Ingat .. kata Mbak lala waktu itu... wah maua jagain lumpur lapindo ya kok cepat-cepat balik ke Jawa Timur...!!!
Hingga kelas 3 kami terus konsisten dengan Hs kami meski menjadi bahan omongan tetangga dan keluarga besar kami... yg meragukan kegiatan kami..
Banyak teman kami di Malang juga akhirnya memilih sekolah formal saat usia menginjak SD.. , inipun tidak salah.. karena dalam pilihan ini perlu juga konsistensi akan hal yang telah diputuskan.
Kebimbangan akan muncul saat anda hanya ikut-ikutan Eforia..
Namun Kebimbangan akan bisa Anda lewati bila keputusan yang Anda buat merupakan keputusan Keluarga yang tentunya harus saling supoort antara Istri dan Suami serta kenyamanan anak kita dalam melakukannya.
Salam Dahsyat semoga sedikit bisa menambah semangat Anda..!!!
November 30, 2011
Unschooling bersama Keluarga Yudi Ariyanto
Apa sih UNSCHOOLING itu... ?
Uschooling itu adalah suatu cara... dan dalam homeschooling itu ada kutub yang berbeda (ekstrim), ada School At Home (sekolah di rumah) yg terstruktur banget dalam hs nya... dan ada di kutub yg lain ada Uschooling yang tidak butuh Kurikulum, tutor dan membiarkan anak belajar apa yang ia inginkan.., anak tidak diarahkan belajar apa anak silahkan memilih belajar apa yang dia inginkan..
diantara 2 kutub ini ada banyak metode seperti Unit studi, CM dll.
Mulai Usia berapa dan bagaimana sih caranya ?
Gerakan membiarkan anak berkembang sebagaimana manusia normal diusia tertentu anak ingin bermain biarkan dia bermain.. sampai usia 15 th dia masih suka main biarkan ia bermain tidak masalah bagi kami , yang utama bagaimana kita menjadi Roler model bagi sianak, ketika sianak melihat model orang dewasa dia kana melihat dunia orang dewasa itu berbeda dengan dunia anak-anak, sebagai contoh saya sebagai insinyur ..anak saya bertanya bagaimana seorang insinyur itu bekerja..., demikian pula saat dia lihat Ibunya yg seorang Dokter... dia juga akan tanya... bagaimana seorang dokter bekerja,maka saat itulah dia akan timbul ketertarikannya pada dunia orang dewasa, misalnya anak ingin menjadi Dokter biarkan dia mencari caranya menjadi dokter, bila dia tertarik untuk sebagai Programer biarkan dia belajar untuk mencari bagaimana menjadi Programer yg harus belajar bahasa program dll.
Misalnya Saya ingin jadi seorang kameramen... Orang tua tidak tahu... maka kita sama-sama belajar dan disini orangbtua hanya memfasilitasi saja bahkan mungkin juga bisa belajar bersama, karena dalam Unschooling Orang Tua harus tidak menjadi yang paling tahu namun bagaimana membiarkan anak kita tertarik pada suatu hal dan dia berusaha mencari tahu sendiri.. dan kita mengawal atau menjadi teman belajar bagi dirinya
Apakah Anda tidak mengatur atau mengarahkan Anak Anda ?
Dalam ketertarikan anak saya pada suatu hal kita hanya menunjukan jalan yang harus dia pelajari...dan kita tidak menyampaikan semua profesi adalah baik... profesi Dokter itu Baik, Programer itu juga baik, Insinyur juga baik... dan biarkan dia menilai sendiri apakah profesi yang dia ingin ketahui itu baik menurut dia, biar dia mencari tahu sendiri.
Bagaimana Anda menjawab pertanyaan masyarakat.. " Wah Bapaknya Insinyur Ibunya Dokter... kok anaknya gak sekolah ini bagaimana ?
Menurut pandangan saya Homeschooling itu bukan gagah-gagahan.., ada juga karena lebih pada kondisi dimana pemerintah tidak bisa melakukan pelayanan pada sebuah keluarga.
Sebagai contoh.. keluarga kami.. anak saya pertama Desklesia, saat itu dilingkungan saya tidak ada sekolah yang bisa menampung anak saya, artinya bila dipaksakan sekolah di situ pasti tidak optimal dan cenderung mengganggu yang lain, karena sekolah adalah dalam tanda kutip untuk anak yg normal atau rata-rata, sedang anak saya tidak.
maka kami mencari alternatif.. karena anak saya termasuk ABK dan saat itu dilingkungan saya jg tidak ada sekolah inklusi, maka saya mengambil tanggung jawab pendidikan anak saya.
Bila kkta di tanya di Akhirat.. tentang pendidikan anak.. tidak mungkin gurunya atau masyarakat.. namun orang tuanyalah yang bertanggung jawab
Ketika ada orang yang tanya..mengapa kok tidak sekolah ? maka saya menjawab bukan karena gagah-gagahan, tapi saya menjawab "saya mengambil tangggung jawab pendidikan anak saya karena di lngkungan tidak ada yg bisa melayaninya "
dengan begitu mereka mengerti..
Ke P Lukman yang sebagai ketua Asahpena Malang.. menurut Anda bagaimana tentang Unschooling itu sendiri ?
Saya menghargai.. suatu keluarga yang mengambil keputusan yang terbaik pada anak-anaknya... , karena Keluarga adalah yang paling tahu tentang kebutuhannya, meski pemerintah sudah ada kebijakan tentang jalur pendidikan diluar Formal, seperti jalur non formal di Kursus, PKBM, SKB dll. ada juga jalur In formal seperti anak-anak Hs ini harusnya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik, dan bisa mencari tahu kebutuhan apa yang harus mendapatkan perhatian dan pelayanan, bukan malah mengatur untuk mempersulit mereka.., kareana kebijakan yang ada kadang masih belum menyentuh hal-hal yang esessial bagi kegiatan mereka ini.
Asahpena sebagai salah satu asosiasi mencoba menjadi mediator antara pelaku Hs dan sekolah alternatif..ke DIKNAS akan terus berupaya menyuarakan dan menyampaikan beberapa hal penting yang mungkin menjadi hambatan bagi mereka, memang masih kecil yang kita lakukan.. namun beberapa hal penting yang berhubungan dengan kecemasan tentang legalitas Hs terus kita upayakan dan perjuangkan.
Untuk anak-anak Unschooling pun bila suatu saat mereka ternyata butuh legalitas.. juga kita siap bantu, atau minimal memberikan arahan yang bisa mereka lakukan sesuai dengan aturan yang ada.
Untuk anak P Yudi yang ke 2,3 dan 4 kok juga unschooling mengapa demikian ?
Unschooling itu gaya Hidup Mas .., awalnya memang karena keterpaksaan..tapi ternyata itu enak..., gak pakai mahal, murah... gak ada antar anak ke sekolah, seragam dll.
dan nanti bila ingin ijasah.. ya tinggal datang saja ke mitra sekolah untuk daftar dan ikut ujian. itu kalau ternyata belakangan dia ingin berprofesi sebagai dokter dsb.
Bagaimana dengan kesibukan Bapak sebagai seorang Insinyur dan Ibu sebagai seorang Dokter untuk anak-anak Unschooling ini ?
Jangan bayangkan anak Homeschooling atau Unschooling itu kita akan ribet banget ya..., yang penting bagaiman menumbuhkan mereka menjadi pembelajar mandiri, orang tua hanya simpel saja.. menjadi orang yg baik dan menyediakan kebutuhan yg dibutuhkan si anak, dan tidak perlu sekolah menjadi orang tua homeschooling...??? yang dibutuhkan hanya menjadi model bagi si anak.
Terus bagaimana kedala yang sering dihadapi bagi orang tua Unschooling ?
Kecenderungan orang tua adalah mengajari anaknya..., orang tua cenderung mengatur anaknya, mendekte anaknya bahkan untuk urusan jodohpun diatur..jadi kendala kita adalah bagaimana mengerem kita atau menahan supaya kita tidak mengajari anak kita, namun lebih sebagai teman bermain atau teman belajar.
kendala lain... adalah saat ank saya belum bisa baca jingga usia 8,5 th.. kakek dan tetangga bingung .. sementara saya yakin pada saatnya dia akan bisa baca dengan sendirinya, demikian juga saat dia bisa bahasa inggris dan bahasa pemograman... dan saya yakin anak itu punya kemampuan untuk belajar dan dia akan bisa dengan sendirinya, saya percaya dan yakin bila kita memberikan ruang, kebebasan dan fasilitas pada anak kita Insya Alalah dia akan bisa dengan sendirinya.
kita juga harus siap dgn omongan-omongan kanan kiri kadang gak enak juga.. anaknya kok belum bisa baca..dsb.. ? maka keluarga Hs atau unschooling harus siap menerima pertanyaan seperti itu.
Bagaimana Sisi sosialisasi anak-anak Unschooling atau Hs menurut P Lukman ?
Banyak pandangan pengamat yang belum tahu Hs terjebak oleh kata-kata "Home" seakan tempat belajar kita hanya di rumah saja... sehingga terkungkung tidak memiliki teman,
ini pandangan yg salah.. karena anak hs itu bisa sosialisasi di TPQ, klub menggambar,
robotik dan tempat lain yang dia bisa pilih... dan kebanyakan anak-anak Hs banyak kesempatan berteman dengan usia yg berbeda..karena bagi kita keluarga hs dimanapun kita bisa belajar.., dimanapun kita bisa bersosialisasi.., kemarin kita ketemu dengan anggota pasukan PBB yg baru pulang dari libanon kita berkenalan. ketemu banyak orang di kereta api kita juga bisa berkenalan dan ini juga bagian dari sosialisasi.
Bagaimana Anda menjadi contoh bagi anak Anda ?
Kita berlaku normal saja... seorang ayah bisa juga salah.., seorang ayah juga bisa berlaku baik.., kadang juga bisa marah... dan yang penting model orang tua bagi anak kita kita selayaknya manusia normal yang bila salah ya harus minta maaf.., dan kita bukan menjadi orang tua yang sok tahu segalanya... dan bisa marah juga bila anak kita perlu kita marahi karena mungkin melanggar aturan yg sdh kita sepakati.
dengan menjadi model bagi anak Insya Allah kita akan berusaha menjadi orang tua yang baik. jangan sampai ada kesan saat kita menyekolahkan anak kita ke suatu Sekolah maka tugas kita sudah selesai, misalnya di sekolah yang bagus ajaran agamanya..anak kita tidak mungkin melakukan ajaran agama tersebut dengan baik bila orang tuanya juga tidak menjadi model yang baik sesuai ajaran agama tersebut.
Pernah tidak anak P Yudi Ingin sekolah ?
Pernah.. ketika anak saya menanyakan itu saya menjawab. mau tidak kamu belajar yang diatur... pagi belejar matematika..., lagi asyik-asyiknya tiba-tiba suruh berhenti belajar bahasa.. kemudian kerjakan tugas pelajarran yang tidak kamu suka...dan banyak lagi yang lain... maka dia pilih yang bebas yang dia inginkan.. dan saya percaya anak saya akan menjadi hebat bila dia ingin belajar apa yang ia suka bulan kerena belajar pelajaran yang dipaksakan.
P Lukman Bagaimana Anda menyikapi hal Ini ?
Saya rasa sah saja... karena ini adalah keputusan keluarga P Yudi yang punya kosep yang Beliau yakini dan ini harusnya menjadi perhatian bagi pemerintah.. bahwa harus ada solusi yang cerdas untuk bisa menjadi payung, sehingga pendidikan di luar sekolah ini biasa lebih mendapatkan perhatian an apresiasi yang lebih lagi.. dan semoga anak-anak yang saat sekarang banyak memerlukan perhatian khusus artinya beberapa diantara mereka tiadak merasa nyaman lagi di sekolahnya bisa mendapatkan Sekolah alternatif yang bisa mengoptimalkan mereka minimal bia menjadi patner bagi mereka dalam memenuhi kebutuhan yang diinginkan.
Lakukan yang Anda bisa lakukan..!! dan yakini apa yang Anda yakini...!!
Bila Anda bisa menjadi Model yanh baik bagi anak-anak Anda maka itu suatu langkah awal dalam menghantarkan anak-anak menjadi orang yang berguan kelak...!!
Salam Dahsyat
( Hasil bincang-bincang di ATV/KOMPAS TV tentang Unschooling dengan Keluarga Yudi Ariyanto dan Lukman Hakim )
Tempat : Cafe Vila Alamanda hotel Agrowisata Batu
Batu 30 November 2011
rencana tayang di Kota Malang hari Rabu tgl. 7 Desember 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)